PERJALANAN SETIA
"Bagaimana? Bisa tidak, datang?" tanya Mba Helwah, ia contact personku. Aku mengenalnya dari kawan yang tinggal di Wina, Austria. Demikian juga ia mengenalku. "Minggu ke tiga April kan?" tanya ku. "Iya," katanya. "Insya Allah, doakan saja saya sehat," kataku. "Sepertinya saya akan bawa rombongan. Kawan-kawan di sini mungkin mau ikut," sambungku.
***
"Siapa yang mau ikut ke Hamburg?" tanyaku. "Hah! Kita mau jalan-jalan ke Hamburg? Kapan?" tanya Kak Nena semangat. "Minggu ketiga" jawabku. "Kita bisa naik WET (Schoenes Wochenende Ticket), harganya 37 euro untuk 5 orang," lanjutku. Mereka bereaksi seru dan ramai. Sebagian bersemangat dan langsung membicarakan rencana mereka di Hamburg. "Kalau mau jalan-jalan silahkan saja, nanti ibu-ibu bisa jalan-jalan sedangkan saya, minta maaf, nggak ikut jalan-jalannya, saya ada undangan," uraiku lanjut. "Wah nggak enak dong! Kita kan maunya jalan-jalan sama kamu juga," seru Kak Nena.
Dari kalimatnya, mudah-mudahan tidak membuat aku ge er, aku bisa menangkap bahwa, ibu yang satu itu cukup sayang padaku. Hingga tidak mau aku hilang atau tidak ada dalam keceriaan di antara mereka. "Hahaha... jangan-jangan aku ge er..." senyum-senyum aku geli dalam hati.
Showing posts with label Batin. Show all posts
Showing posts with label Batin. Show all posts
Wednesday, April 21, 2010
Monday, March 8, 2010
ORKAN
Hannover memang terasa jauh. Anisyah bersiap sejak semalam. Aroma gulai ayam tercium wangi. Telur bulat selesai direbus. Ayam panggang cokelat berkilat. Gurken muda hijau yang rasanya manis, segar dan crunchy siap dikunyah. Semua bahan logistik sudah siap.
Menjelang jam 02.00, mata Anisyah yang masih segar mengamati jam persegi panjang di atas meja. Ia mengambil wudhu dan sholat tahajud dua rakaat-dua rakaat salam sampai sejumlah delapan rakaat dan menambahkan tiga rakaat witir. Allah Subhanahuwata'ala cinta witir. Anisyah berharap Allah cinta padanya oleh karena itulah ia mengerjakan witir.
Selesai sholat Anisyah mengepak semua kelezatan tadi dalam kotak kemasan. Dimasukkan rapi ke dalam plastik. Ia berjaga, khawatir kemasan mengendur terguncang-guncang selama perjalanan nanti. Mendarat manis plastik bungkusan itu di dalam tas hitamnya. Ia punya waktu satu jam untuk mengistirahatkan penat matanya sebelum bangun kembali dan bersiap berangkat.
Jam 4:30, ia kembali bangun dan segera bersiap berangkat. Setidaknya jam 6 ia sudah harus ada di Hauptbahnhoft (Hbf) Berlin karena kereta berangkat sepuluh menit kemudian. Perlu waktu tiga puluh menit untuk jalan kaki yang cukup jauh hingga sampai di halte Turmstrasse. Bus menuju Hbf sepagi ini hanya ada di stasiun-stasiun tertentu.
Di putar gagang pintu Haupt Tür (pintu gerbang) di Gebeüde (Gedung) tempat ia tinggal. Brrr... Alhamdulillah...tidak ada angin kencang di pagi yang gelap ini. Hanya dingin menusuk tulang yang menyambut. Beruntung. Agak lama juga bus itu datang, mungkin ingin memberi jeda setelah berjalan jauh sebelumnya, dan membiarkan Anisyah menunggu untuk menikmati dinginnya pagi. Tetapi ia tidak sendiri ada sekitar lima orang asing lagi yang juga bersamanya menanti bus di halte itu.
Saturday, February 27, 2010
PERPISAHAN
Belum sebulan lalu masih terasa sedih dan haru karena kepulangan seseorang yang sangat dekat dengan masjid Al Falah. Wida Ridiana. Datang ke Berlin pada tahun 2002. Ia menyelesaikan masa studinya sebagai MSc pada tahun 2009. Selama ini Wida adalah bendahara masjid dan namanya resmi tercatat pada surat pendirian lembaga IWKZ e.V. Lembaga yang terdaftar secara resmi di pemerintahan Jerman sebagai penyambung budaya Indonesia di negeri ini.
Wida mulai banyak melakukan aktivitas mendukung kegiatan dakwah kepada masyarakat Berlin pada masa Ustadz Agustino Zulys memimpin masjid Al Falah. Aktivitasnya terus berlanjut setelah Ust. Dr.Agustino kembali ke tanah air dan estafet kepemimpinan masjid berpindah tangan kepada Qiyadah baru yaitu Ustadz Dr. Makky Sandra Jaya.
Selama itu pula Insya Allah, amal kebaikan yang luar biasa mengalir untuk gadis ini. Amal yang Insya Allah ikhlas. Wida sendiri pada saat perpisahannya benar-benar lupa bahwa kepulangannya akan berdampak pada pengurusan kembali ke pengacara mengenai perubahan akta lembaga budaya ini. Secara de facto dan de jure keberadaan namanya bagi lembaga ini sangatlah penting. Semoga Allah Subhanahuwata'ala membalas amalnya dengan banyak kebaikan di dunia dan di akhirat. Amiin.
Monday, February 15, 2010
Ruku
Alhamdulillah, masih dingat oleh Allah sebagai orang yang ruku ketika sedang ruku. Terima kasih ya Allah sudah mengingatku. Betapa beruntung di ingat oleh Allah. Terima kasih sudah mengizinkanku mengingatMu di saat rukuku. Terima kasih ya Allah. Terima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)