..."Bu Raniyah, apa khabar?" tanya Salma di gagang telepon. "Baik," jawab Raniyah, "Saya mau pesan 30 risoles untuk hari Kamis dua minggu lagi! Untuk kawan kerja lama saya yang mau pesta ulang tahun," pesan Raniyah kepada suara di seberang. "Alhamdulillah, nanti Kamis dua minggu ke depan saya kirim," sambut Salma senang.
"Bu Raniyah, kapan mau datang ke masjid?" tanya Salma lagi. "Waduh, saya malu ke masjid! Saya tidak bisa mengaji," jawab Raniyah. "Tidak apa-apa Bu, justru kita ke masjid supaya bisa mengaji," kata Salma menanggapi. "Datang saja Bu Raniyah hari Selasa jam 10:00 pagi, saya juga ada di masjid," sambung Salma.
Raniyah memang ada keinginan untuk belajar mengaji. Tetapi ia malu. Ia sudah tua, setahun lagi sudah kepala tujuh umurnya. Bagaimana ia bisa belajar? Dirinya menganggap ia pasti yang paling bodoh di sana nanti. Sampai sekarang pun ia belum bisa sholat. Semua bacaan sholat sudah hilang dari kepalanya. Cuma Qulhu Allahu Ahad, Al Falaq dan An Nas yang ia ingat karena sebelum tidur sering ia baca. Beberapa tamu dari Indonesia yang menginap di rumahnya di Berlin terkadang meninggalkan buku bacaan sholat atau buku pelajaran agama. Raniyah memang membuka buku itu dan mencoba untuk menghafal tapi ia tidak bisa membaca huruf Arab hanya bacaan dalam tulisan Indonesianya.